jump to navigation

Obama Menang, Indonesia Bagaimana? November 5, 2008

Posted by dani chan in Uncategorized.
add a comment

104414p

Ist

/

Rabu, 5 November 2008 | 18:33 WIB

JAKARTA, RABU – Terpilihnya Barack Obama menjadi presiden Amerika Serikat (AS) menimbulkan berbagai persepsi di kalangan pengusaha Indonesia. Di satu sisi, Obama dinilai akan memperhatikan Indonesia karena punya sentimen khusus, namun di sisi lain Obama diperkirakan akan menjauhi Indonesia karena isu teroris.

Menurut Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia MS Hidayat, untuk tahun pertama pascapemilihan,  Obama akan lebih dulu fokus dengan perbaikan ekonomi AS. Setelah itu, Obama baru akan melihat ke luar.

“Sesuai janji yang dikampanyekan Obama yang ingin melakukan recovery ekonomi,” kata Hidayat, di Jakarta, Rabu (5/11).

Disamping itu, ada persepsi yang muncul bahwa Obama akan menjauhi Indonesia. Pasalnya, di AS Obama disudutkan sebagai orang Islam yang dekat dengan teroris. Menurut Hidayat, Obama akan mengambil jarak sementara, sampai merasa secara politik posisinya aman.

“Dia akan ambil jarak dulu dengan kita sampai posisinya aman,” ujar Hidayat. Terpilihnya Obama tidak bisa terlalu diharapakan untuk perekonomian Indonesia. Karena siapapun yang menjadi presiden akan menghadapi defisit anggaran sekitar 400 miliar dollar AS.

Di lain pihak, berkembang pula spekulasi bahwa Obama akan memperhatikan Indonesia karena dia punya sentimen khusus terhadap Indonesia.

Sri Sultan HB X, Capres Atau Cawapres Oktober 26, 2008

Posted by dani chan in Uncategorized.
add a comment


Oleh Ch Robin Simanullang 

Hasil beberapa survei terakhir menunjukkan peningkatan cukup tinggi peluang Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk ikut bertarung dalam Pilpres 2009 mendatang, baik sebagai Capres maupun Cawapres. Masalahnya adalah partai mana yang akan mencalonkannya?

Sri Sultan HBX sendiri seorang kader Partai Golkar (PG). Partai ini memiliki sejumlah kader yang memiliki kapasitas dan ambisi menjadi Capres dan Cawapres. Maka, sudah barang tentu persaingan di antara mereka akan sangat ketat. Sementara, mekanisme penentuan Capres-Cawapres PG sampai saat ini masih dalam perdebatan, walau sudah mengarah pada mekanisme Rapimnas dan akan meninggalkan mekanisme konvensi.


Sangat sulit bagi Sri Sultan memenangkan persaingan menjadi Capres, terutama jika berhadapan dengan Ketua Umum DPP PG Jusuf Kalla yang juga menjabat Wapres. Sementara untuk bisa menjadi Capres dari partai lain, juga pasti tidak mudah. Sedangkan untuk menjadi Capres Independen, undang-undang belum memungkinkannya.


Peningkatan popularitas Sri Sultan, memang membuka peluang yang baik baginya untuk dicalonkan menjadi Capres atau Cawapres. Tapi peluang itu hanya bisa terwujud jika dia dicalonkan partai. Sementara, sejauh ini belum ada partai yang secara resmi menyatakan akan mengusungnya.


Dengan tidak menutup kemungkinan menjadi Capres, Sri Sultan lebih realistis menjadi Cawapres. Beberapa kader Partai Golkar sendiri mewacanakannya sebagai Cawapres berpasangan dengan JK. Begitu juga PDI-P melalui beberapa kali survei menominasikannya sebagai Cawapres pendamping Megawati. Juga Partai Demokrat akan memasangnya sebagai Cawapres bagi SBY.


Hasil survei Lembaga Survei Nasional (LSN) pada 2 -14 Mei 2008 di 33 provinsi, menempatkannya sebagai figur peringkat ketiga yang akan menjadi presiden dan wapres 2009-2014, yaitu dengan urutan SBY, Megawati, Sultan, Wiranto, Prabowo, dan Hidayat Nur Wahid.


Hasil survei itu juga menempatkan pasangan SBY dan Sri Sultan sebagai pasangan terfavorit Capres-Cawapres 2009. Disusul pasangan SBY-Wiranto (47,9 persen), SBY-Prabowo (45,7 persen), SBY-Hidayat Nur Wahid (44,5 persen), Megawati-Wiranto (44,3 persen), Megawati-Sultan (43,5 persen), Sultan-Wiranto (42,3 persen), Wiranto-Sultan (41,8 persen), Prabowo-Sultan (41,2 persen), dan Megawati-Prabowo (41 persen).
Sementara hasil survei Lembaga Riset Indonesia (LRI) yang dilakukan pada pertengahan Mei 2008, juga menempatkan Sultan di posisi ketiga Capres dengan dukungan 17,61 persen responden. Berada di atas Wiranto yang mendapat 8,76 persen. Diperingkat satu dan dua adalah SBY 35,6 persen dan Megawati 25,51 persen.


Demikian pula untuk Cawapres, Sri Sultan berada di urutan kedua (27,71 persen) setingkat di bawah Hidayat NW (29,67 persen). Jusuf Kalla hanya 12,71 persen, Jenderal (Pol) Sutanto 7,09 persen, Din Syamsuddin 6,93 persen, Akbar Tandjung 4,48 persen, dan Panglima TNI Djoko Santoso 3,75 persen.


Di tengah makin meningkatnya popilaritas (daya tarik) Sri Sultan yang tergambarkan dari berbagai hasil survei, pengamat masalah politik dan sosial, Fachry Ali, mengatakan, jika pada Pilpres 2009 Jusuf Kalla berpasangan dengan Sultan HB X, maka pasangan itu akan menjadi duet yang menarik. Menurutnya, duet Kalla-Sultan bisa menjadi model duet Nusantara karena merupakan perpaduan unsur Jawa dan luar Jawa.


Jika diamati dari gaya kepemimpinan, duet JK-Sri Sultan, mungkin lebih ideal daripada duet SBY-Sri Sultan. Sebab gaya SBY dengan Sri Sultan tak jauh berbeda. Sementara dengan JK, akan dapat saling mengisi dan saling melengkapi.
Berpasangan dengan Mantan Pangkostrad Prabowo Subianto juga memungkinkan. Hanya saja, partai mana yang akan mengusung mereka? Partai Gerindra yang sudah menyatakan akan mengusung Prabowo, belum tentu akan meraih suara signifikan.


Atau bisa muncul kejutan beberapa partai mencalonkan Sri Sultan menjadi Capres berpasangan dengan Hidayat Nur Wahid sebagai Cawapres, atau sebaliknya. Duet ini akan menjadi pesaing kuat, yang bisa mungkin memenangkan pertarungan dengan kuatnya pesan moral dari keduanya.


Sementara, Sri Sultan sendiri dalam beberapa kesempatan menjawab pertanyaan tentang kesediaannya untuk mencalonkan diri menjadi presiden, mengatakan, dia tidak akan mendeklarasikan diri menjadi calon presiden. Karena, menurut pesan mendiang Sultan Hamengku Buwono IX, kekuasaan itu tidak untuk diperebutkan, tapi untuk melayani rakyat. “Maka, sejauh dikehendaki rakyat dan rakyat meminta, tugas untuk melayani dan mengabdi tidak bisa ditolak karena itu panggilan sejarah,” ujar Sultan diplomatis.
 Majalah Tokoh Indonesia Edisi 39  

 

http://www.tokohindonesia.com/majalah/37-72/39/bu.05.shtml

PKS: PhD Hanya Untuk Database Partai, Bukan Syarat Capres Agustus 7, 2008

Posted by dani chan in Uncategorized.
add a comment

Mengenai syarat pendidikan capres, Tifatul menjelaskan PKS mengajukan minimal capres adalah lulusan S-1, tidak perlu PhD. “Nanti kalau harus doktor, hanya SBY yang bisa mencalonkan,” candanya.


Jakarta – Presiden PKS Tifatul Sembiring meluruskan isu tentang calon presiden (capres) harus bertitel doktor atau PhD. Ia menegaskan, PKS tidak pernah membuat kriteria PhD sebagai syarat Capres. PKS hanya mendata kader-kadernya yang bergelar PhD.

“Bukan untuk capres, kita mendata 300 PhD itu telah bergabung dengan PKS dan siap bertugas di birokrasi,” kata Tifatul Sembiring saat dihubungi detikcom, Kamis (5/8/2008).

Tifatul menjelaskan pendataan tidak hanya dilakukan untuk PhD, tetapi juga dilakukan untuk lulusan S-1. “Dari 800.000 kader PKS, itu 80% nya adalah lulusan S-1,” ungkapnya.

Mengenai syarat pendidikan capres, Tifatul menjelaskan PKS mengajukan minimal capres adalah lulusan S-1, tidak perlu PhD. “Nanti kalau harus doktor, hanya SBY yang bisa mencalonkan,” candanya.

Isu soal capres harus bertitel PhD berkembang setelah Tifatul menjawab pertanyaan wartawan apakah kader PKS mampu memimpin bangsa ini. Mendapat pertanyaan tersebut, Tifatul menyatakan, PKS akan menyeleksi 300 kader PKS yang bergelar Phd, lulusan luar negeri, termasuk Hidayat Nur Wahid.
(rdf/iy)

http://www.pk-sejahtera.org/v2/index.php?op=isi&id=5564

Dua Tsunami untuk SBY-JK Agustus 5, 2008

Posted by dani chan in Uncategorized.
add a comment

Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla (SBY-JK) dihadang dua tsunami. Satu di awal, satu lagi di ujung kekuasaan mereka. Baru dua bulan memerintah, mereka mesti menghadapi tsunami Aceh dan Nias. Di ujung pemerintahan, mereka dihadang “tsunami” krisis energi dan pangan. Kedua tsunami ini bukan saja menguras energi dan pikiran, melainkan juga anggaran pemerintahan.

Ketika Pemilu 2009 makin mendekat sekarang ini, pemerintah, sekadar misal, mesti menanggung tiga beban subsidi amat berat –subsidi listrik, bahan bakar minyak (BBM), dan pangan yang mencapai Rp 320 trilyun per tahun. Sebagai salah satu turunannya, krisis listrik jadi ancaman serius pada saat ini; sekalipun jangan terlalu berharap bahwa listrik akan padam ketika SBY dan/atau JK berpidato-kampanye di atas podium kelak.

Salah satu bagian pokok krisis energi adalah naiknya harga minyak dunia yang makin memberatkan beban anggaran kita. Ini konsekuensi serta-merta yang mesti kita tanggung karena gagal mengelola kekayaan cadangan minyak dan terpuruk menjadi importir. Maka, tiga kali sudah pemerintahan menaikkan harga BBM.

Dalam ketiga kasus itu, demonstrasi anti-kenaikan harga, sesuai dengan prediksi dan harapan pemerintah, memang tak panjang usia. Namun cerita agak berbeda kita saksikan dalam kasus kenaikan harga Juni 2008 ini. Kenaikan harga memang tak diresistensi oleh demonstrasi bernapas panjang. Tetapi reaksi di bawah permukaan terus berjalan seiring dengan makin mendekatnya hari pencoblosan Pemilu 2009. Kali ini, reaksi publik bisa jadi bermuara di tempat-tempat pemungutan suara April 2009 (pemilu legislatif) serta Juli dan September 2009 (dua putaran pemilu presiden).

Setidaknya, begitulah Indobarometer mengindikasikan melalui survei yang mereka publikasikan awal Juli lalu. Masyarakat yang puas atas kinerja Presiden SBY melorot dari 55,6% pada Desember 2007 menjadi 36,3% pada Juni 2008. Angka kepuasan terhadap Wapres JK setali tiga uang: meluncur dari 49,9% menjadi 28,8% saja dalam kurun waktu yang sama.

Bagi SBY, konsekuensi kenaikan harga BBM itu berlanjut ke kemungkinannya terpilih kembali dalam Pemilu 2009. Pada Desember 2007, lagi-lagi menurut Indobarometer, ada 38,1% orang yang mengaku akan memilih SBY. Ia kandidat yang paling diminati. Namun angkanya melorot menjadi hanya 20,7% pada Juni 2008.

Sebaliknya, tiga pesaing terdekat SBY sejauh ini, Megawati Soekarnoputri, Wiranto, dan Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengalami kenaikan popularitas. Jika pada Desember 2007 Megawati hanya dipilih oleh 27,4%, pada Juni 2008 pemilihnya 30,4% –sekitar 10% di atas SBY. Dalam rentang waktu yang sama, Wiranto mengalami kenaikan jumlah pemilih dari 4,8% menjadi 9,3% dan Sultan dari 6,3% menjadi 8,8%.

Maka, tsunami pertama (Aceh dan Nias) menuntut pemerintahan SBY-JK menjadi pengelola bencana yang andal –sebuah harapan yang tak jua tercapai. Sementara itu, tsunami kedua tampaknya justru bisa jadi sumber bencana bagi keduanya dalam Pemilu 2009. Keduanya, terutama SBY, terancam kehilangan dukungan publik.

Persoalannya menjadi makin rumit bagi keduanya, mengingat krisis energi dan pangan baru saja dimulai dan bukan akan berakhir. Harga minyak dunia yang tak juga bersahabat memaksa pemerintah terus menggelontorkan subsidi BBM dalam jumlah makin besar. Ancaman krisis pangan global dan krisis listrik juga membebani anggaran negara dengan subsidi raksasa.

Akankah pemerintah berani menaikkan kembali harga BBM? Dugaan saya, tidak. Tapi, jikapun mereka punya surplus keberanian untuk mengambil langkah tak populer itu, satu-satunya kemungkinan kesempatan terakhir adalah menjelang Ramadan besok (sekitar September). Sebab, menurut teori JK, kenaikan harga dramatis (rata-rata di atas 100%) pada Oktober 2005 tak menghasilkan resistensi dan oposisi serius-panjang-efektif karena diputuskan menjelang Ramadan. Atmosfer Ramadan, menurut teori ini, membinasakan syahwat demonstrasi dan oposisi politik.

Lewat September, tak tersedia lagi kesempatan. Pada Oktober 2008 –sembilan bulan sebelum hari pencoblosan putaran pertama pemilihan presiden pada Juli 2009– status SBY dan JK sebagai kandidat harus sudah diumumkan. Agak tak masuk akal jika keduanya berani menjadi kandidat presiden/wapres –baik jika keduanya berduet lagi atau malah berduel– yang menaikkan harga BBM. Memori pemilih, sekalipun sangat pendek, akan menghukum mereka tanpa ampun.

Kapan pun kenaikan harga BBM diputuskan sekarang-sekarang ini, saya yakin, hanya akan memproduksi magma ketidakpuasan yang mengalir deras menuju tempat-tempat pemungutan suara.

Walhasil, tsunami pertama memosisikan SBY-JK sebagai pendamai dan pembebas Aceh; pemimpin yang sukses melepaskan Aceh dari konflik panjang. Sementara itu, jika tak terkelola, bukan tak mungkin tsunami kedua justru akan melepaskan SBY dan/atau JK dari kekuasaan pada periode berikutnya. Selebihnya, tentu saja, hanya Tuhan yang tahu.

Eep Saefulloh Fatah
Pengajar ilmu politik di Universitas Indonesia
[Perspektif, Gatra Nomor 37 Beredar Kamis, 24 Juli 2008]

http://www.gatra.com/artikel.php?id=117172

Menapak Pemilu Presiden 2009 Agustus 4, 2008

Posted by dani chan in Uncategorized.
add a comment

 Pensiun dini dari dinas militer, Prabowo beralih menjadi pengusaha. Ia mengabdi pada dua dunia. Kini, nama Mantan Pangkostrad dan Komjen Kopassus ini kembali mencuat, menyusul keikutsertaannya dalam konvensi calon presiden Partai Golkar. Putera begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo ini ingin kembali ke ladang pengabdian negerinya. Namun diperkirakan targetnya bukan meraih kursi presiden pada Pemilu 2004 ini. Melainkan sebuah garis start untuk menapaki Pemilu Presiden 2009 nanti.


Diakui, keikutsertaannya dalam konvensi Partai Golkar bukan dilatarbelakangi oleh hasrat, apalagi ambisi untuk berkuasa saat ini. Seperti sering diucapkan, bahkan sejak masih aktif dalam dinas militer, dirinya telah bersumpah hendak mengisi hidupnya untuk mengabdi kepada bangsa dan rakyat Indonesia.


 Prabowo sangat mafhum, menjadi capres – apalagi kemudian terpilih sebagai presiden – bukan pilihan enak. Karena, siapa pun nanti yang dipilih rakyat untuk memimpin republik niscaya bakal menghadapi tugas yang maha berat. “Karenanya, Pemilu 2004 merupakan momentum yang sangat strategis untuk memilih pemimpin bangsa yang tidak saja bertaqwa, tapi juga bermoral, punya leadership kuat dan visi yang jelas untuk memperbaiki bangsa,” tambahnya.


Jika dicermati, perjalanan hidup Prabowo memang penuh mozaik dan sarat dengan cerita mengharu biru. Suatu perjalanan yang membuatnya lekat dengan pujian, sekaligus cercaan. Sejarah mencatat, pengabdian 24 tahun Prabowo dalam dinas militer tidak sekadar mengantarkannya menjadi jenderal berbintang tiga. Namun, sekaligus meneguhkan reputasi pribadinya, hingga tercatat sebagai salah seorang tokoh yang berperan dan menjadi saksi penting dalam sejarah republik. Sebagai perwira TNI AD, reputasi alumnus Akabri Magelang (1974) ini memang membanggakan. Karier militernya – yang banyak diisi dengan penugasan di satuan tempur – terhitung lempang.


Pada masanya, Prabowo bahkan sempat dikenal sebagai the brightest star, bintang paling bersinar di jajaran militer Indonesia. Dialah jenderal termuda yang meraih tiga bintang pada usia 46 tahun. Ia juga dikenal cerdas dan berpengaruh, seiring dengan penempatannya sebagai penyandang tongkat komando di pos-pos strategis TNI AD.


Nama Prabowo mulai diperhitungkan, terutama sejak ia menjabat Komandan Jenderal Kopassus (1996) dan aktif memelopori pemekaran satuan baret merah itu. Dua tahun kemudian, ayah satu anak ini dipromosikan menjadi Panglima Kostrad. Posisi strategis yang, sayangnya, tidak lebih dari dua bulan ia tempati. Karier gemilang Prabowo memang kemudian meredup seketika. Sehari setelah Presiden Soeharto, mundur dari kekuasaan, 21 Mei 1998, Prabowo – yang ketika itu menantu Soeharto – ikut digusur. Ia dimutasikan menjadi Komandan Sesko ABRI, sebelum akhirnya pensiun dini. Berbarengan dengan itu, bintang di pentas militer itu lantas diberondong dengan aneka tudingan.


Mulai dari tudingan bahwa dialah dalang (mastermind) dari serangkaian aksi penculikan para aktivis, penembakan mahasiswa Trisakti, penyulut kerusuhan Mei 1998, hingga menerabas ke isu seputar klik dan intrik di kalangan elite ABRI. Mulai dari tudingan adanya “pertemuan konspirasi” di Markas Kostrad pada 14 Mei 1998, tuduhan hendak melakukan kudeta yang dikaitkan dengan isu “pengepungan” kediaman Presiden B.J. Habibie oleh pasukan Kostrad dan Kopassus, sampai ke pembeberan sifat-sifat pribadinya. Lebih mengenaskan lagi, hampir semua kekacauan di tanah air sebelum dan sesudah Mei 1998 nyaris selalu dipertautkan dengan Prabowo.


Setelah hiruk-pikuk 1998 berlalu, yang berujung dengan berakhirnya masa dinas militernya, Prabowo kemudian terbang ke Inggris, sebelum bermukim di Yordania. Dari sinilah, ia mulai merintis karier sebagai pengusaha. Sebagai putra dari keluarga begawan ekonomi Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Prabowo sebenarnya tak terlalu asing dengan dunia usaha. Apalagi, selain ayahnya, anggota keluarga yang lain umumnya juga menekuni dunia bisnis.


Tak berbeda dengan di militer, karier Prabowo di dunia usaha pun melesat cepat. Selain karena kesungguhan dan kerja keras, ia juga tergolong cepat belajar. Kini, lima tahun setelah pensiun, ia telah memimpin armada bisnis di bawah payung Nusantara Group. Wilayah usahanya terentang dari Kalimantan Timur hingga Kazakhstan. Dari kelapa sawit, perikanan, pertanian, bubur kertas (pulp) hingga minyak dan pertambangan. “Militer dan bisnis sama saja. Sama-sama lahan untuk mengabdi, dan sama-sama banyak tantangan yang mesti dihadapi,” tutur Prabowo, yang gigih menawar-kan konsep ekonomi kerakyatan dalam visi-misinya sebagai capres Partai Golkar.

 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia

http://www.tokohindonesia.com/majalah/09/prabowo.shtml

 

 

Prabowo Subianto

Prabowo Subianto Agustus 4, 2008

Posted by dani chan in Uncategorized.
add a comment

rpr the jakarta post

Prabowo Subianto
Lahir:
Jakarta, 17 Oktober 1951
Agama:

Islam 

 

 

Pendidikan:

SMA: American School In London, U.K. (1969)
Akabri Darat Magelang (1970-1974)
Sekolah Staf Dan Komando TNI-AD 

 

 

Kursus/Pelatihan:

Kursus Dasar Kecabangan Infanteri (1974)
Kursus Para Komando (1975)
Jump Master (1977)
Kursus Perwira Penyelidik (1977)
Free Fall (1981)
Counter Terorist Course Gsg-9 Germany (1981)
Special Forces Officer Course, Ft. Benning U.S.A. (1981) 

 

 

Pekerjaan:

Perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (1974 – 1998)
Wiraswasta 

 

 

Jabatan:
Komandan Peleton Para Komando Group-1 Kopassandha (1976)
Komandan Kompi Para Komando Group-1 Kopassandha (1977)
Wakil Komandan Detasemen–81 Kopassus (1983-1985)
Wakil Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad (1985-1987)
Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad (1987-1991)
Kepala Staf Brigade Infanteri Lintas Udara 17/Kujang I/Kostrad (1991-1993)
Komandan Group-3/Pusat Pendidikan Pasukan Khusus
(1993-1995)
Wakil Komandan Komando Pasukan Khusus (1994)
Komandan Komando Pasukan Khusus (1995-1996)
Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (1996-1998)
Panglima Komando Cadangan Strategi TNI Angkatan Darat (1998)
Komandan Sekolah Staf Dan Komando ABRI (1998)


http://www.tokohindonesia.com/majalah/09/prabowo.shtml

CAPRES Faktor Kemampuan Jauh Lebih Urgen Agustus 2, 2008

Posted by dani chan in Uncategorized.
add a comment

Siti Zuhro, Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Sabtu, 2 Agustus 2008

JAKARTA (Suara Karya): Seorang pemimpin nasional harus memenuhi tiga syarat utama, yaitu kapasitas, keterpercayaan, dan daya tarik. Selain itu, yang bersangkutan juga harus mampu memenuhi aspirasi daerah secara menyeluruh. Karena itu, faktor usia bukan substansi bagi kandidat presiden atau wakil presiden ideal.

Demikian rangkuman pendapat yang dikemukakan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Laode Ida, pengamat politik dari Reform Institute Yudi Latif, dan pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro secara terpisah, di Jakarta, kemarin.

 

“Memilih pemimpin bukan dilihat dari usia tua atau muda. Jadi, intinya pemimpin itu harus punya kemampuan, dipercaya oleh rakyat, dan memiliki daya tarik. Bukan hanya daya tarik fisik, tapi juga wawasan. Selain itu, dia juga harus mampu meningkatkan dan memenuhi aspirasi daerah secara menyeluruh,” kata Yudi yang juga dosen di Universitas Paramadina ini.

Di tempat terpisah, Wakil Ketua DPD Laode Ida mengusulkan Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita dan Wakil Ketua DPD Irman Gusman sebagai calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).

 

“Saya kira mewakili aspirasi daerah, Pak Ginandjar dan Pak Irman layak menjadi capres atau cawapres. Terserah mau digandengkan dengan Megawati, SBY, atau Wiranto,” katanya, di Jakarta, Jumat (1/8).

 

Menurut Laode, dengan munculnya capres alternatif dari perwakilan daerah maka akan membuat figur kepemimpinan nasional lebih bervariasi dan dapat mengatasi persoalan-persoalan di daerah. “Sekaligus juga bisa mengurangi kekecewaan daerah yang merasa tidak diperhatikan oleh pusat,” ujarnya.

Dia mengatakan, kalau capres yang ada hanya figur tertentu, maka rakyat di daerah merasa aspirasi mereka menyangkut figur capres tidak diperhatikan.

Di tempat yang sama, peneliti LIPI Siti Zuhro mengatakan, perlu adanya seorang calon pemimpin yang mempunyai perspektif daerah. Alasannya, saat ini banyak daerah yang merasa tidak puas terhadap pemerintah pusat karena merasa pusat tidak konsisten dalam melakukan kebijakannya.

 

“Pemimpin yang bervisi daerah ini sangat penting. Kalau tidak, Indonesia bisa terancam dengan hancurnya NKRI. Karena daerah akan meakukan perlawanan,” ujarnya.

 

Senada dengan Siti, Yudi Latif menyebutkan, dari banyak syarat yang harus dipenuhi capres, kualitas kebijakan juga merupakan kunci utama kesuksesan seorang pemimpin. “Quality adjusment harus diperhatikan, jadi bukan soal tua atau muda,” ucapnya.

 

Yudi mengatakan, setelah sepuluh tahun reformasi, sistem pemerintahan mengalami perubahan signifikan, dari otoriter menjadi tidak berotoritas. Sehingga, pemimpin yang kuat dan berotoritas sangat diperlukan di Indonesia dan sosok pemimpin baru yang berorientasi masyarakat akan berpeluang besar memenangi Pemilihan Presiden (Pilprers) 2009.

 

Menurut dia, kunci kesuksesan sebuah proses demokrasi tidak terlepas dari kemampuan atau kapasitas pemimpin memberikan solusi terbaik. Namun, tutur dia, saat ini belum ada pemimpin yang memenuhi kriteria tersebut. Maka diharapkan pada Pemilu 2009, masyarakat bisa memilih pemimpin yang memenuhi kriteria tersebut, dan sekaligus konsisten menyalurkan aspirasi rakyat.

 

“Kuncinya, semua terletak pada pemimpin. Pemerintahan yang kuat sangat diperlukan bangsa ini. Karena, kini saya rasa pemerintahan semakin tidak berotoritas walau tidak otoriter lagi,” ujar Yudi.

 

Dia mengatakan, tingkat kejenuhan dan kekecewaan rakyat pada pemerintahan yang sedang berjalan saat ini sudah berada pada ambang batas terendah. Karena itu, pada Pemilu 2009 yang diharapkan muncul adalah figur pemimpin yang bisa memenuhi kepentingan bangsa dan negara. “Kita butuh pemimpin baru yang kuat di saat krisis,” ujarnya.

 

Lebih penting lagi, kata Yudi, pemimpin baru harus bisa mengakomodasi aspirasi daerah karena basis terkuat sebuah bangsa terletak di daerah dan bukan pusat. “Memilih pemimpin yang muda kalau tidak mampu menerjemahkan keinginan rakyat untuk apa,” katanya.

 

Kewenangan DPD

 

Dalam kesempatan tersebut Yudi mengatakan, perlu ada kewenangan mengusulkan capres tidak hanya oleh parpol ataupun gabungan parpol, tetapi juga DPD. “Untuk negeri seluas Indonesia, maka tidak bisa hanya mengandalkan parpol semata. DPD bisa membuat konvensi untuk menampung capres-capres dari DPD itu. Tapi memang wacana ini perlu mengubah konstitusi,” kata Yudi.

Yudi menggambarkan bahwa sistem demokrasi seperti diterapkan Amerika Serikat (AS) masih membuka peluang untuk munculnya calon independen. Hal itu disebabkan konstitusi AS membuka emergency exit yakni calon independen, meski ada pengajuan parpol. “Di AS, basis kepemimpinan ada pada tingkat gubernur maupun senator. Namun, tetap ada peluang untuk independen karena ada jejaring konvensi. Hal itu juga yang bisa dilakukan DPD mendatang,” kata Yudi.

 

Dia menyebutkan, selama ini ada kelemahan yang muncul dari pemimpin-pemimpin yang lahir dari parpol. Mereka umumnya tidak mengakar di masyarakat. Akibatnya, proses politik tercerabut dari rekrutmen kepemimpinan. “Kelemahan parpol untuk melahirkan pemimpian yang berkualitas itu pula yang menyebabkan munculnya lompatan-lompatan tokoh yang mengandalkan media massa karena ingin cepat terkenal,” kata Yudi. (Kartoyo DS/Rully)

 

www.suarakarya-online.com   02-08-2008

SRI SULTAN SIAP MAJU PILPRES 2009 Agustus 2, 2008

Posted by dani chan in Uncategorized.
add a comment

BANDUNG—Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X siap maju sebagai calon presiden (capres) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009.

Namun dia mengajukan syarat pencalonannya harus didukung mayoritas masyarakat Indonesia. ”Kalau jumlahnya (rakyat yang mendukung) hanya satu, mana bisa saya maju,” kata Sultan seusai menjadi pembicara dalam Sarasehan Kebangsaan-Rekonsiliasi Sejarah (1) di Balai Pertemuan Umum Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Jalan Dr Setiabudhi 299 Bandung kemarin siang.

Sarasehan dihadiri sejumlah tokoh nasional seperti mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, mantan KSAD Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu, mantan Mendagri Suryadi Sudirja, mantan Kasum TNI Letjen (Purn) Kiki Syahnakri, tokoh Jawa Barat Tjetje H Padmadinata, serta artis Franky Sahilatua.

Diskusi yang berlangsung di Ruang Pertemuan UPI Bandung itu diikuti sekitar 200 peserta yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia. Menurut Sultan, menjadi capres merupakan amanat yang harus diemban. Namun, dia belum memutuskan akan bergabung dengan partai politik mana sebagai kendaraannya dalam pilpres tersebut.

Saat ini, Sultan mengaku enggan membicarakan masalah pencapresan dirinya karena waktu pelaksanaan pilpres masih jauh. ”Kan saya juga tidak mungkin datang ke tiap partai dan menawarkan diri agar diusung dalam pilpres,” ujarnya. Sebelumnya, saat menjadi pembicara dalam diskusi kebudayaan di Hotel Grand Preanger, Jalan Asia Afrika, Bandung, Jumat (4/4) malam, Sultan juga sempat menyinggung soal capres.

Dia mengutip pesan ayahnya, Sri Sultan Hamengku Bowono IX yang mengatakan, jabatan merupakan amanah dari rakyat dan bukan sesuatu yang harus diperebutkan. ”Jadi saya menunggu amanah dari rakyat jika ditanya mengenai pencalonan sebagi presiden,” lanjutnya.

Sultan juga mengatakan, jika dia mencalonkan diri, harus ada kepastian dukungan dari rakyat. Itu merupakan hal yang utama. ”Jika tidak ada dukungan, buat apa saya maju. Jika saya maju, saya harus jadi pemenang. Maka dari itu, saya menunggu amanah dan dukungan dari rakyat seluruh Indonesia” paparnya.

Seperti diketahui, nama Sultan belakangan ini santer disebut sebagai capres alternatif. Posisi dia disejajarkan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden RI saat ini) dan Megawati Soekarnoputri (capres dari PDIP). Dari sejumlah hasil polling, diketahui dukungan pencalonan Sultan menunjukkan tren positif.

Selama ini Sultan dikenal sebagai kader Golkar karena pernah menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Provinsi DIY. Namun dukungan pencalonan Sultan belakangan ini santer disuarakan Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir. Di tempat yang sama, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno belum mau berkomentar soal pencalonan Sultan. Dia berkelit, waktu pelaksanaan pilpres masih lama.

”Tak perlu dibicarakan dulu saat ini,” ujar Try. Sementara itu, kendati Ketua Umum DPP PAN Sutrisno Bachir berulang kali menyebut nama Sultan sebagai capres yang akan diusung, di lingkup internal PAN masih terjadi tarik ulur. Kemarin, Sekjen PAN Zulkifli Hasan menyatakan partainya belum menentukan nama capres 2009.

”Kami baru membicarakan capres setelah pemilu legislatif,” kata Zulkifli kepada SINDO tadi malam. Dia belum berani menentukan nama karena proses penentuan capres masih panjang. ”Pokoknya siapa yang dipilih rakyat, tentu itu yang akan kita pilih (jadi capres),

 

www.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/07/28/1/131621

Siapa Obama Indonesia 2009? Agustus 2, 2008

Posted by dani chan in Uncategorized.
add a comment

Christianto Wibisono

udiarto Shambazy menulis dalam Kompas (26/7), “Andai Aku Jadi Presiden” bahwa ikon Obama lahir hanya sekali dalam 1.000 tahun. Capres Barack Obama melampaui popularitas Kennedy ketika berpidato di Brandenburg Gate dikerumuni 200.000 massa yang bahkan tidak pernah terkumpul di AS. Ibaratnya, Obama bukan sekadar Presiden AS tapi adalah Presiden Dunia, di mana para pemilih sedunia peduli dan proaktif, ingin ikut memilih dan mengharapkan kandidat Obama bisa menjadi presiden kulit berwarna pertama di AS. Suatu terobosan meritokrasi meruntuhkan tembok pemisah ras, etnis, agama sesuai pidato Obama di Berlin. Dalam manuver untuk menjamin mulusnya Obama menjadi presiden dalam meraih dukungan wanita kulit putih dan Partai Republik, Caroline Kennedy mengusulkan Ann Venneman, mantan Menteri Pertanian kabinet Bush dari Partai Republik sebagai cawapres. Caroline adalah putri almarhum Presiden John Kennedy yang ditunjuk Obama menjadi ketua tim rekrutmen cawapres.

Sementara, prospek munculnya Obama Indonesia tergantung dari peta persaingan capres. Dengan asumsi duet Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK) dipertahankan oleh kedua pihak karena merupakan the best option, mereka bisa berkongsi untuk mengatur strategi dengan koalisi Golkar-Demokrat, SBY harus memperkuat Partai Demokrat guna menjadi “Ferrari” dalam mengebut kemenangan Pemilu 2009. Tampaknya opsi ini tidak tampak dalam strategi kubu SBY.

Pada tahun 2004 pasangan ini muncul dari kekuatan pesona individu seorang SBY yang terkesan dimarjinalkan oleh Taufik Kiemas. Jusuf Kalla bukan Ketua Umum Golkar, dan karena itu menyeberang menjadi mitra SBY. Baru se- telah jadi Wapres, Jusuf Kalla merebut jabatan Ketua Umum Golkar .

Sejarah politisi era Reformasi penuh dengan tukar mitra mirip tukar guling atau kumpul kebo, tidak jelas lagi kesetiaan kepada partai atau mitra, tapi sudah homo homini lupus.

Sebelum pemilu 1999 Gus Dur dan Megawati adalah mitra kongsi, setelah masuk ide Poros Tengah, maka keduanya retak karena berebut kursi presiden. Akbar Tandjung dinaikkan ke kursi Golkar oleh Wiranto yang menyetop Eddi Sudradjad, tapi dalam konvensi, Wiranto malah mengalahkan Ketua Umum Akbar Tandjung. Dalam konvensi ini Jusuf Kalla juga kalah, baru setelah menjadi Wapres, dia come back merebut jabatan Ketua Umum dari posisi Wapres. Wiranto kapok dengan Golkar dan membuat Hanura. Cak Nur bengong ketika ditanya mana “gizi”-nya waktu mau ikut konvensi Golkar. Gizi berarti money politics, tentu saja sebagai “calon Obama” Cak Nur tidak punya dana, maka ia bahkan tidak bisa ikut proses konvensi sama sekali.

Peta 2009 berbeda karena tampaknya posisi incumbent menjadi rawan dengan pelbagai faktor eksternal yang bisa disebut force majeur. Kenaikan harga migas sebetulnya bukan kesalahan SBY-JK, karena itu adalah wilayah kekuasaan produsen terbesar OPEC dan spekulan kelas George Soros. Tapi dampak bagi masyarakat pasti mempengaruhi pilihan dan terutama bila pertanyaan mendasar kenapa pengelolaan migas kita karut-marut dan tidak pernah tuntas transparan.

Pilihan Terbaik

Jika SBY-JK tidak pecah kongsi, maka ini adalah pilihan terbaik dan teraman buat duet itu, karena kombinasi lain tampaknya tidak lebih baik dari duet ini. Tapi Fadjroel Rachman dalam debat di TVOne hari Jumat memojokkan Budiman Sudjatmiko yang dalam posisi defensif membela jurus come back-nya Megawati. Konfrontasi berdasar umur capres dipicu polemik Tifatul Sembiring-Megawati akan menjadi salah satu isu utama. Para tokoh generasi muda semakin pede dan ingin langsung terjun menuju singgasana RI-1 tanpa melalui magang RI-2 lagi. Ini adalah dampak kemacetan politik 32 tahun Soeharto yang menyebabkan antrean panjang gerbong elite yang tidak pernah tertampung dalam jalur utama kekuasaan. Semua membeludak di era reformasi, ingin langsung kedepan loket dan pintu masuk menjadi RI-1.

Sutrisno Bachir, Ketua Umum PAN terjun langsung ke media se- cara pribadi, Yusril Ihza Mahendra, Din Syamsuddin, Rizal Malarangeng, Yuddy Chrisnandy, Fadjroel Rachman, sampai Ratna Sarumpaet semua mengorbit di media massa sebagai tokoh kaum muda.

Di antara pelbagai nama papan atas dari generasi senior, Sri Sultan HamengkuBuwono X merupakan figur unik yang berkharisma dan semua ketua partai besar ingin melamarnya menjadi cawapres. Tapi dari segi senioritas dan popularitas dia malah lebih berbobot dan paling electable sebagai capres. Sebagai “sultan” tidak mungkin “melamar” ke partai lain, sedang di dalam Golkar sendiri terhambat mekanisme ketua umum cenderung otomatis menjadi capres.

Struktur politik Indonesia tidak memungkinkan figur bukan ketua partai menjadi Obama. Ketua Umum DPP Partai tidak akan mencalonkan orang luar atau orang lain, sebab dalam memakai tradisi partai sistem parlementer, ia memang calon Perdana Menteri bila partainya menang dalam pemilu. Padahal, kita menganut sistem pilpres langsung. Dengan mekanisme partai yang didominasi DPP atau Ketua Umum, maka sulit mengharapkan lolosnya Sultan Hamengku Buwono sebagai calon Golkar, kecuali Golkar mengulangi pola konvensi zaman Akbar Tandjung. Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla membantah bahwa Golkar sudah mengambil putusan mencalonkan Sultan seperti kata ketua DPD Golkar DI Yogyakarta.

Memang ironis bahwa tokoh non partai terpopuler, tidak mungkin jadi capres, kecuali rela melamar ke partai dengan risiko ditolak, kecuali sang tokoh rela menjadi nomor 2. Sebab, kursi RI-1 merupakan target dan privilege Ketua Umum DPP Partai besar, kecuali partai gurem. Tapi partai gurem juga butuh “gizi”, padahal kendaraan partai itu mirip “bemo” melawan “Ferrari” seperti Golkar dan PDI-P. Kendaraan PKB sedang dipisah dari sopir andalan Gus Dur. Kendaraan PKS bisa masuk 3 besar “Ferrari” dan PKS belum tentu rela menawarkan kursi RI-1 untuk capres di luar PKS. Karena figur Hidayat Nur Wahid jelas merasa setara dengan barisan tokoh muda yang sudah muncul terbuka. Kenapa SBY se- olah membiarkan Partai Demokrat mirip “bemo” dan tidak mengubahnya menjadi “Ferrari” dengan sopir kawakan.

Jika sampai Demokrat hanya menghasilkan proporsi “bemo” bagaimana dan siapa yang akan credible dan rela mencalonkan SBY. Kecuali bila duet SBY-JK rujuk dan tetap bersatu menggalang kekuatan untuk terjun langsung merangkul golongan putih (golput) yang jumlahnya lebih besar dari Golkar maupun PDI-P. Jika duet ini pecah, maka JK akan tampil lewat Golkar, sedang SBY jika mengandalkan Demokrat yang masih kelas “bemo” tentu akan sulit melawan “Ferrari” Golkar dan PDI-P.

Formula memenangi SBY-JK tentu berbeda dari formula jika keduanya maju solo dan saling bersaing. Apakah duet ini masih kuat dan punya aura incumbent yang bisa mematahkan lawan di luar pemilu dengan mengecilkan pesaing seperti dialami PKB dan Gus Dur. Budiarto Shambazy benar bahwa Obama lahir hanya 1.000 tahun sekali karena itu sistem politik Indonesia model kumpul kebo sekarang ini sulit melahirkan Obama 2009. Kecuali bila ada terobosan 40 juta pemilih yang golput, bersatu mencalonkan capres menurut hati nurani mereka dan menjadi partai terbesar di Indonesia.

Penulis adalah pengamat politik nasional dan internasional

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/07/28/Editor/edit02.htm

Golkar Kaltim Usulkan Sri Sultan Jadi Capres Agustus 2, 2008

Posted by dani chan in Uncategorized.
add a comment

 

Senin, 28 Juli 2008 – 10:32 wib

Amir Sarifudin – Okezone

BALIK PAPAN – Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Golkar Kalimantan Timur (Kaltim) merekomendasikan Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai calon presiden.

Hal ini disebabkan karena Sri Sultan berhasil mengungguli figur lain dalam polling figur capres yang dilakukan di Kalimantan Timur.

“Hasil survei independen menyatakan Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai figur paling populer sebagai calon presiden di Kaltim. Karena itu, DPD Partai Golkar Kaltim mengusulkan nama beliau sebagai capres,” ujar Juru Bicara Partai Golkar Kaltim, Mukmin Faisal di Kantor Balai Kota Balik Papan, Jalan Jenderal Sudirman, Kaltim, Senin (28/7/2008).

Dia menambahkan, survei independen yang dilakukan memunculkan sejumlah nama yang layak diusung Partai Golkar sebagai capres. Seperti Aburizal Bakrie, Akbar Tanjung, dan Jusuf Kalla. “Namun, Sri Sultan menempati urutan pertama,” ujarnya.

Meski begitu, dia mengakui jika hasil survei ini tidak lepas dari adanya sejumlah komunitas Jawa di Kalimantan Timur. Sehingga dalam survei, Sri Sultan banyak mendapatkan dukungan. “Tapi dalam Pilpres peran figur kan lebih dominan daripada parpol,” ujarnya

 

www.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/07/28/1/131621

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.