jump to navigation

Yang Menikmati, Menteri Setelah Saya Juni 18, 2008

Posted by dani chan in Uncategorized.
trackback

Keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) membuat kinerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak. Mulai soal lifting minyak yang cenderung turun hingga merosotnya investasi di sektor minyak. Kementerian ESDM dinilai tidak mampu mengelola minyak dengan baik, sehingga tidak bisa menikmati kenaikan harga minyak yang sudah menembus level US$ 127 per barel.

Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro, menanggapi tudingan itu dengan dingin. “Sejak reformasi, tidak ada investor yang terjun ke migas. Ini sampai enam tahun lamanya. Dua tahun ini, angkanya berbicara lain,” kata Purnomo, seraya memperlihatkan setumpuk data kepada wartawan Gatra G.A. Guritno dan pewarta foto Abdul Malik MSN, Selasa siang lalu. Petikannya:

Mengapa lifting minyak cenderung turun, sehingga tak mampu menahan kenaikan harga BBM?
Pertama, ada satu anggapan bahwa kenaikan harga BBM itu dikaitkan dengan lifting minyak kita yang turun. Saya kira, itu tidak betul karena dulu, pada waktu Pak Harto menjabat, waktu lifting minyak masih tinggi sebelum tahun 1995, juga ada kenaikan harga BBM. Jadi, keduanya tidak harus dikorelasikan, karena lifting minyak turun, lalu harga BBM harus naik. Pada waktu lifting minyak tinggi pun, harga BBM dinaikkan. Penyesuaian harga BBM ini lebih karena berbagai alasan.

Di antaranya adalah keadilan. Kebanyakan penerima subsidi adalah masyarakat mampu, yang sebenarnya tidak pantas menerimanya. Subsidi membuat disparitas harga dengan harga minyak yang naik semakin besar. Hal itu meningkatkan penyelewengan, penyelundupan, dan penyalahgunaan BBM.

Lalu kita ingin lebih efisien, di mana minyak ini, terutama BBM, dapat digunakan sebaik-baiknya. Nah, dengan catatan itu, memang ini keputusan yang sulit. Saya katakan keputusan yang sulit karena memang ini sesuatu yang tidak populer, sesuatu yang pahit, tetapi harus kita lakukan karena untuk masa depan yang lebih baik.

Apa kendala dalam peningkatan produksi minyak?
Banyak sekali, baik internal maupun eksternal. Internal, antara lain, kondisi 90% lapangan produksi sudah matang (mature) dengan penurunan produksi (decline rate) 15%. Tetapi, dengan optimalisasi, second recovery, dan rehabilitasi lapangan tua, bisa diperlambat 7%-8% setahun. Lalu investasi pada eksplorasi dan produksi baru bergairah pada awal 2004.

Penyebabnya adalah krisis ekonomi, dinamika politik berupa pergantian kekuasaan yang cepat sampai tahun 2000, Undang-Undang Migas yang baru terbit tahun 2001 dan mendapat penentangan luar biasa serta keluar dari MK pada akhir 2003. Setelah itu, aturan pelaksanaannya turun.

Perlu dipahami pula bahwa produksi minyak perlu waktu, dari tahap eksplorasi di mana ada kemungkinan gagal, sampai berproduksi. Selain itu, juga gangguan teknis peralatan/fasilitas proses produksi, dari pengadaan rig dan fasilitas produksi seperti tangki sampai tanker.

Kendala eksternalnya juga tidak sedikit. Antara lain persaingan fiskal untuk menarik investasi migas dari negara lain. Soal insentif fiskal ini baru keluar 1 Januari lalu. Tumpang tindih lahan dan masalah lingkungan juga banyak. Dalam bidang kehutanan dan tambang saja baru kelar Februari lalu. Kemudian birokrasi perizinan pengadaan dan pembebasan lahan berbelit-belit, Ini merupakan dampak otonomi daerah yang berlebihan. Gangguan keamanan di wilayah kerja, seperti demo dan pencurian fasilitas produksi, juga ada. Ini semua muncul tak terduga begitu terjadi reformasi.

Jadi, selama kurun waktu itu, tidak ada kepastian investasi minyak. Ini berdampak rendahnya eksplorasi dan turunnya produksi minyak. Tetapi, dengan investasi, kita harapkan produksi migas meningkat cepat. Tahun 2008, kami rencanakan investasi sekitar US$ 14 milyar atau sekitar Rp 120 trilyun.

Apa upaya kongkretnya dalam waktu dekat?
Pemerintah mengambil beberapa langkah. Dari aspek fiskal, dilakukan penegasan kembali pemberian insentif kegiatan eksplorasi dan mempercepat pengaturan operasional di lapangan. Lalu mempercepat penyelesaian tentang pedoman dan tata cara penyetoran PNBP dari kegiatan usaha hulu migas, berkoordinasi dengan Departemen Keuangan. Dalam hal tumpang tindih lahan, ditingkatkan koordinasi dan sinkronisasi peraturan dengan pihak terkait. Kemudian aspek lingkungan dengan meningkatkan koordinasi dan sinkronisasi peraturan dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Bapedal daerah.

Demikian pula dalam bidang keamanan dan konteks otonomi daerah, dilakukan koordinasi dengan pihak terkait serta peraturan di daerah. Itu semua normatifnya. Riilnya, kami mempercepat produksi ladang minyak di Cepu. Harapannya, bisa 170.000 barel per hari pada Desember nanti. Di sini masalah koordinasi menjadi penting.

Undang-Undang Migas dirasa menjadi penghambat investasi?
Nyatanya ada investasi. Setelah dilepas oleh MK, nyatanya naik. Tuduhan bahwa Undang-Undang Migas menghambat itu tidak betul. Produksi minyak itu perlu waktu. Bisa 10 tahun. Pada beberapa lapangan malah bisa 15 tahun. Contohnya Cepu. Cepu ketemu tahun 1990, baru kini mulai ada hasilnya. Ini bukti bahwa biarpun kita berusaha meningkatkan produksi, mungkin yang menikmati itu menteri setelah saya. Jadi, menteri setelah saya melihat produksi naik. Maka, tolong jangan melihat dari sisi politis saja bahwa nanti produksi naik, padahal upaya itu sudah dilakukan dalam jangka panjang.

Benarkah minyak tidak lagi jadi andalan?
Bicara minyak dari sisi pendapatan, kita tidak bisa hanya bicara minyak tanpa bicara minyak dan gas, karena dalam eksplorasi keduanya sering tidak bisa dilepaskan. Pendapatan negara dari migas besar sekali. Realisasinya tahun 2007 hingga Rp 176 trilyun atau 25% dari penerimaan nasional. Tetapi kita mesti lihat bahwa dulu minyak jadi primadona, kini tidak lagi. Tahun 1970-an dan 1980-an, minyak nyumbang 70%-80% dari APBN.

Kini yang lebih tepat adalah bicara soal sumbangan sektor energi. Tidak hanya minyak, melainkan juga gas dan batu bara. Batu bara meningkat tinggi, di kisaran 2,3 juta barel ekuivalen, gas bumi 1,3 juta barel ekuivalen, dengan minyak 954 barel per hari. Jadi, kalau dihitung, 4,6 juta barel per hari produksi gabungan energi. Mestinya bicara dalam konteks energi, bukan lifting minyak saja. Paradigmanya sudah berubah. Tapi orang masih berpikir di paradigma lama, padahal gas juga setor banyak. Apalagi, batu bara juga jadi primadona.

Mengapa cost recovery tinggi, sedangkan produksi minyak turun?
Masalah cost recovery selalu digambarkan sebagai ongkos dan produksi, sehingga yang diperlihatkan di sini ongkosnya naik, produksinya turun. Jangan gitu dong. Kalau membandingkan ini adalah ongkos dengan pendapatan. Ongkosnya naik, pendapatannya lebih naik. Kenapa kok saya ditembaki dengan menganggap kini ada kenaikan cost recovery, tapi dikaitkan dengan produksi.

Sekarang di cost recovery dan di pendapatan, antara minyak dan gas tidak bisa dipisahkan. Kalau minyak itu berproduksi, di situ ada gasnya juga. Jadi, muncul persepsi salah. Mestinya, jika kita membandingkan cost recovery migas, ya, dengan pendapatan migas. Sebab tidak bisa memisahkan cost minyak dengan gas. Semuanya nempel terus. Jadi, kalau membandingkan biaya, mestinya dengan pendapatan.

Kita menjual minyak melalui kontrak, sedangkan ketika membeli dengan spot. Cara ini kan merugikan?
Sebenarnya tidak betul kalau dikatakan kita menjual dengan kontrak jangka panjang. Tetap kita beli pakai harga spot. Jadi, setiap kontrak itu yang pasti volumenya. Kontrak kita ekspor atau kontrak kita impor itu volumenya. Harganya itu berdasarkan harga yang terjadi. Memang di kontrak ada yang meminta diberi batas bawah (floor) dan atas (ceiling). Rentang bawah-atas itu diminta pembeli untuk risiko ketidakpastian. Dalam kenyataannya, kini pembeli diuntungkan karena harga minyak terus loncat. Dulu hitungan kita kan cuma US$ 95 per barel, sekarang sampai US$ 127 per barel. Siapa yang bisa meramalkan ini?

Lonjakan harga minyak luar biasa, bagaimana pemerintah menyuarakan ini di tingkat global?
Pembentukan harga minyak tak hanya atas supply and demand. Ada memang permintaan Cina dan India yang tinggi. Lalu juga masalah seperti gejolak politik negara produsen, menurunnya stok bensin dan minyak tanah di Amerika, pelemahan nilai dolar Amerika, gangguan operasi kilang dan ketatnya persyaratan lingkungan, musim dingin yang berat, dan tindakan spekulan untuk pembelian minyak besar-besaran. Kita sudah ajak teman kita untuk membantu menstabilkan ini di OPEC.

Apakah tank top di beberapa tangki mempengaruhi lifting minyak?
Semua produksi minyak dimasukkan ke tangki-tangki. Nah, kalau tak ada kapal, keran produksi distop. Jika diisi terus, akan luber. Kini tankernya tidak ada, sehingga pengangkutan dari penjual ke pembeli lambat. Total jumlah di tangki 14 juta barel. Kalau separonya saja atau 7 juta barel di-lift atau dimasukkan ke tanker untuk dikirim ke pembeli, akan menaikkan lifting minyak. Bila tanker cukup, maka bisa menambah sekitar 39.000 barel per hari selama enam bulan.

[Laporan Utama, Gatra Nomor 28 Beredar Kamis, 22 Mei 2008]

 

Sumber: http://www.gatra.com

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: