jump to navigation

Mereka Tahunya Indonesia Itu Tsunami Juni 21, 2008

Posted by dani chan in Uncategorized.
trackback

Salim Said:

Ceko adalah sebuah nama yang tak asing bagi Indonesia. Ia negara penggalan dari Cekoslovakia, negara di Eropa Timur, yang di Indonesia secara ringkas sering disebut Ceko saja. Negara ini pernah menjalin hubungan erat dengan Indonesia pada 1958-1965. Antara lain ditandai dengan perjanjian kebudayaan Indonesia-Ceko yang diteken pada Mei 1958, disusul dengan pengiriman sejumlah mahasiswa Indonesia ke negara Eropa Timur itu. Namun perubahan orientasi politik di Indonesia pada 1966 membuat hubungan karib itu menjadi dingin.Cekoslovakia sendiri mengubah haluannya dari sistem sosialis ke demokrasi sejak 1989. Dan pada 1 Januari 1993, negara ini memecah diri secara damai menjadi Ceko dan Slovakia. Keduanya kembali menjadi dua negara merdeka, seperti format sebelum 1918. Kini Ceko dan Slovakia, sebagaimana beberapa negara Eropa Timur lainnya, sedang memapaki kebangkitan ekonomi.

Yang sekarang memimpin Ceko adalah generasi baru. Hubungan dekat dengan Indonesia adalah sejarah masa lalu. Para elite Ceko kini tak lagi merasa dekat dengan nama Indonesia. “Mereka tahunya Indonesia itu hanya tsunami,” kata Salim Said, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Republik Ceko. Rupanya, musibah tsunami pada akhir 2004, yang menelan korban lebih dari 200.000 jiwa di Aceh, itu bergema sampai ke Ceko.

Tak kenal maka tak sayang. Begitulah yang dirasakan Salim Said –doktor lulusan Universitas Ohio, Amerika Serikat– ketika mulai menduduki kursi duta besar pada akhir 2006. Maka, Kedutaan Besar RI (KBRI) di Praha memfokuskan diri pada kegiatan pengenalan Indonesia melalui acara-acara kebudayaan. Salim juga memanfaatkan momentum peringatan 50 tahun perjanjian RI-Ceko, Mei ini.

Berikut wawancara wartawan Gatra Bernadetta Febriana, yang pekan lalu berkunjung ke Praha, Ceko, dengan Salim Said, sosok yang selama ini dikenal sebagai dosen serta pengamat film dan politik militer. Wawancara berlangsung di kantornya, di sebuah perbukitan cantik di Praha. Petikannya:

Sebagai duta besar, bagaimana Anda melihat hubungan Indonesia dengan Ceko selama ini?
Hubungan kita tidak ada masalah. Namun telah terjadi perubahan di negeri ini dengan berakhirnya rezim komunis dan dimulainya suatu demokratisasi. Terjadi pergantian elite politik di sini. Muncul elite baru pula di bidang bisnis. Mereka umumnya tidak mengenal Indonesia. Kita harus memperkenalkan kembali Indonesia kepada orang Ceko. Itu tantangannya.

Bagaimana Anda menjawab tantangan itu?
Kita tentu harus tahu, memperkenalkan Indonesia untuk apa. Sekarang ini, prioritas utama di sini adalah meningkatkan volume perdagangan. Nah, dagang itu, kalau orang tidak mengenal kita, kan tidak lancar jual-beli barang dagangannya. Indonesia itu apa? Itu yang kita perkenalkan supaya orang-orang Ceko mengenal produk-produk Indonesia. Dalam rangka itulah, kegiatan kami di bidang kebudayaan kita usahakan semaksimal mungkin.

Hampir tiap bulan kami mengadakan kegiatan kebudayaan. Tidak hanya di Praha, juga di beberapa kota lainnya. Kami berkeliling. Tiap tahun, ada pekan film Indonesia. Tahun ini, misalnya, kami mengadakan pekan film Indonesia pasca-Orde Baru. Kami juga mendatangkan Teater Mandiri dan Putu Wijaya-nya. Kami pun mendatangkan pianis Irawati Soediarso. Itu supaya mereka tahu bahwa Indonesia juga mengapresiasi musik klasik. Kami juga mendatangkan kesenian-kesenian tradisional. Itu terus-menerus.

Jadi, caranya ada dua. Kami datangkan mereka dari Jakarta dengan biaya tidak sedikit. Kedua, kami memanfaatkan rombongan yang sedang menggelar pertunjukan di kawasan Eropa. Misalnya ada rombongan tari yang sedang melakukan pertunjukan di Belanda. Nah, kami kontak mereka supaya mau datang ke Ceko, dengan membiayai perjalanan mereka Belanda-Ceko pp.

Kami juga sepakat bahwa di kawasan Eropa Timur dan Tengah (ETT) ada kerja sama antar-KBRI. Jadi, kalau sedang didatangi rombongan seperti itu, kami menawarkan ke KBRI-KBRI setempat. Dengan demikian, kami punya banyak kegiatan, karena kami berada di sebuah kawasan yang sedang mengalami perubahan drastis.

Kenapa yang dipilih itu paket kebudayaan?
Begini. Bangsa ini kan sangat menghargai kegiatan kultural. Saya mengatakan, orang Barat itu menonton film seperti orang Jawa nonton wayang. Film itu bagian dari budaya mereka. Juga kegiatan-kegiatan kebudayaan lain. Itu bagian dari hidup mereka. Hampir dalam setiap kegiatan kebudayaan kita, ternyata gedung pertunjukannya penuh. Nah, itu kan kesempatan untuk menjelaskan tentang Indonesia kepada orang banyak. Kami memang baru mulai tahun lalu.

Seberapa penting posisi Ceko untuk Indonesia, juga sebaliknya?

Pertama, Ceko untuk Indonesia. Ceko itu anggota Uni Eropa, dan Uni Eropa (UE) itu sangat penting bagi kita. Semua negara bekas Eropa Timur masuk UE. Nah, kalau kita ingin hubungan kita baik-baik saja dengan UE, kita harus mau berhubungan baik dengan negara-negara anggota UE. Di samping itu, kita juga melihat bahwa perekonomian negara-negara bekas komunis sedang bangkit. Banyak potensi di situ yang bisa kita manfaatkan, baik sebagai penanam modal maupun kita yang membawa barang di sini.

Indonesia bagi mereka? Indonesia buat mereka negara penting, sebuah bangsa dengan populasi terbesar keempat di dunia dan negara dengan warga Islam terbanyak di dunia yang sedang mengalami demokratisasi. Kalau berhasil dalam proses demokrasi, kita akan menunjukkan bahwa Islam dan demokrasi itu tidak bertentangan. Itu yang menarik. Sedangkan di banyak negara, seperti Eropa Barat, mereka menghadapi persoalan itu. Bagaimana mereka merekonsiliasikan antara Islam dan Eropa yang modern.

Di samping itu, potensi ekonomi Indonesia yang belum dieksploitasi untuk menunggu penanam modal. Indonesia adalah pasar yang besar. Ada banyak ruang untuk investor dari luar.

Persoalannya, sekali lagi, apakah mereka kenal Indonesia? Jangan cuma mereka tahunya Indonesia itu tsunami. Itu kan menyedihkan. Saya berharap, kabar Indonesia yang sampai di Ceko adalah kabar yang bagus.

Ketika dilakukan Indonesia Expo di Warsawa, pekan lalu, bagaimana pengusaha di Ceko menyikapi expo itu?
Kita sudah berkampanye di sini agar potential buyers itu datang. Sebelum berangkat, saya dilapori ada 25 potential buyers yang akan datang ke Warsawa. Nah, saya belum mendapat laporan apakah mereka semua betul-betul datang.

Pontential buyers itu di bidang apa saja?
Kebanyakan furnitur. Sayangnya ada keluhan, kualitas yang ada dan dikirim tidak sesuai dengan pesanan dan yang menjadi contoh. Faktornya mengapa, saya tidak tahu. Saya pernah sampaikan itu ke Jakarta, agar quality control dijaga. Kalau kualitas produk kita jelek, image kita jadi jelek juga.

Pekan ini, ada rombongan parlemen Ceko yang berkunjung ke Indonesia untuk menawarkan pesawat jenis L-159. Bagaimana reaksi Indonesia?
Itu sebenarnya sudah lama. Angkatan Udara (AU) Ceko mengorder pesawat latih jenis L-159. Kemudian, ketika Ceko masuk NATO, pesawat itu tidak masuk standar NATO. Nah, padahal pesawat itu sudah siap pakai dan sudah terparkir. Mereka kemudian menawarkan ke mana-mana. Katanya, sudah ada kontak ke Nigeria. Dengan Spanyol sudah ada pertukaran dengan pesawat CASA.

Indonesia dianggap penting karena TNI-AU suka sekali dengan jenis ini. Mereka sudah mengadakan test flight. Kepala Staf TNI-AU bahkan pernah datang ke Ceko. Yang jadi soal, itu belum masuk bujet tahun ini. Yang saya dengar, masuk APBN 2009 yang realisasinya baru tahun 2010. Mereka agresif sekali menawarkan ini kepada kita. Setiap saya bertemu dengan mereka, ketika mengantar tamu dari DPR, mereka selalu saja bertanya, “Bagaimana Indonesia, jadi tidak beli pesawat kami?” Selalu saya katakan, tampaknya akan jadi, tapi belum sekarang. Namun TNI-AU memang ingin sekali membeli pesawat itu.

Bagaimana dengan kerja sama militer antara Ceko dan Indonesia?
Sebenarnya ada perjanjian pertahanan Indonesia-Ceko, tapi realisasinya belum ada sampai sekarang.

Penyebabnya?
Saya tidak tahu, mungkin karena terbentur masalah dana. Padahal, perjanjian itu ditandatangani pada 20 November 2006. Kalau terealisasi, mungkin akan terjadi pertukaran perwira Ceko di Indonesia dan sebaliknya. Jangan lupa, di masa Orde Lama, banyak perwira kita dididik di sini. Biasanya, kalau kita beli pesawat, kita kirim orang untuk ikut training supaya bisa menguasai pesawat itu. Mungkin, bila kita jadi beli, akan banyak perwira kita yang ke Ceko pada 2010.

Kalau belum bisa direalisasikan, apa yang bisa mempercepat realisasi perjanjian itu?
Mereka sebenarnya sudah rasan-rasan. Ya, saya bilang, Indonesia sedang konsolidasi, kami kan ada parlemen yang kuat, kami ada pengaturan bujet. Sebenarnya Pemerintah Brasil juga menawarkan pesawat sejenis. Tapi, kalau saya lihat, pihak Indonesia lebih condong ke L-159 buatan Ceko ini.

[Nasional, Gatra Nomor 30 Beredar Kamis, 5 Juni 2008]

 

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: