jump to navigation

Fenomena Jago PDI-P Juni 23, 2008

Posted by dani chan in Uncategorized.
trackback

Oleh Susilo Utomo

BERDASARKAN perhitungan cepat yang diselenggarakan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), Bibit Waluyo-Rustriningsih mendapat 42,40 %, Bambang Adnan 22,98 %, Sukawi-Sudarto 15,33 %, M Tamzil-Rozaq Rais  11,97 % dan juru kunci Agus Soeyitno-Kholiq Arif memperoleh 7,31 %. Kemenangan (sementara) pasangan Bibit Waluyo-Rustriningsih dalam Pilgub Jateng versi LSI tersebut membalikkan anggapan selama ini. Pertama, di mana calon kepala daerah yang berasal dari militer di berbagai daerah sering mengalami kegagalan, sehingga sering calon yang berasal dari TNI diolok-olok sebagai ’’tank mogok’’.Fenomena kedua, selama ini calon kepala daerah yang diusung oleh partai-partai besar, terutama Partai Golkar dan PDI-P sering kedodoran, karena mesin politiknya sering dianggap tidak berjalan alias macet. Persoalannya, mengapa kedua fenomena tersebut tidak berlaku pada Pilgub Jateng?

 Kepemimpinan Njawani

Dari hasil penelitian FISIP Undip tentang Studi Perilaku Memilih pada Pilgub Jateng pada pertengahan Mei 2008, ada tiga hal penting yang dapat untuk menjelaskan fenomena kemenangan Bibit-Rustri. Pertama, responden menginginkan sosok cagub berasal dari  TNI/Polri.

Alasannya, responden menginginkan kepemimpinan yang ’’ngayomi’’, sehingga keadaan ’’aman tentram’’ dapat terjamin. Responden menginginkan rakyat dapat tenang dalam bekerja, sehingga jagad mitologi Jawa tata tentrem, karta raharja atau aman dan sejahtera. Harapan responden seperti ini dapat terpenuhi jika cagub dari TNI yang terpilih.

Namun, persoalannya tidak berhenti di sini, karena di Pilgub Jateng ada dua cagub yang berasal dari TNI, yaitu Bibit Waluyo dan Agus Soeyitno.
Mengapa Agus Soeyitno justru menjadi juru kunci? Unggulnya Bibit atas Agus dapat dijelaskan karena Bibit memiliki modal pokok yaitu Rustri.

Ia seorang perempuan bupati, aktivis PDI-P dan dianggap sukses dalam mengelola jalannya pemerintahan atau paling tidak sukses dalam melakukan komunikasi politik dengan rakyatnya, lewat acara ’’selamat pagi Ibu Bupati’’.

Adanya Rustriningsih ini sebenarnya yang membantu para simpatisan PDI-P dan sudah barang tentu mesin partai tidak mengganggu kinerja mesin politik Bibit-Rustri. Sebaliknya, cagub Agus Soeyitno, di samping mengalami dampak perseteruan elite PKB di tingkat nasional, juga mengalami fragmentasi dukungan pada level ’’grassroots’’, yaitu warga nadliyin.

Warga NU terpecah pada ketiga pasangan, yaitu M Adnan (Bambang -Adnan), M Tamzil (Tamzil-Rozaq Rais), Kholiq Arif (Agus-Kholiq).
Fenomena kedua, responden mayoritas menyukai calon gubernur  yang memiliki tiga ciri keutamaan, yaitu jujur (bahasa jawa; polos), bisa dipercaya, dan rendah hati (tidak keminter).

Dari ketiga ciri keutamaan ini, baik melalui debat publik maupun penampilan, sosok Bibit paling mendekati ketiga ciri tersebut. Dalam debat cagub, misalnya Bibit tampak paling polos dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari panelis.
Kalau tidak bisa menjawab, ia berterus terang.

Kemudian, jika dilihat dari track record dia selama berkarier di TNI-AD, sosoknya bisa dipercaya lebih menonjol jika dibandingkan dengan pasangan cagub lain. Artinya, karier Bibit telah teruji dan berhasil mengatasi krisis ketika memimpin Kodam IV/Diponegoro (jatuhnya Soeharto), impeachment Gus Dur, ketika jadi Pangdam Jaya.

Dan yang jelas, dari penampilannya, sosok Bibit merupakan representasi dari wong ndesa, sehingga tidak berlebihan model kampanye Bibit ’’bali ndesa, mbangun desoa’’ memang cocok dengan situasi masyarakat Jateng sekarang ini.
Fenomena ketiga, kurang dekatnya jabatan gubernur dengan pemilih.

Hampir sebagian besar responden menyatakan bahwa mereka merasa agak jauh ’’ikatan emosional’’ dengan jabatan gubernur jika dibandingkan dengan jabatan bupati/wali kota apalagi kepala desa.

Selama ini, pemilih sudah terbiasa berurusan dengan bupati/wali kota dalam persoalan pembangunan. Urusan sekolah gratis, pelayanan kesehatan, sampai pada hal-hal yang berkaitan dengan urusan sehari telah terbiasa dengan bupati/wali kota.

Berurusan dengan gubernur tampaknya terlalu jauh. Fenomena kurang dekatnya jabatan gubernur ini dapat dilihat pada saat kampanye, di mana para pemilih ’’adem ayem’’, tidak semeriah pada pilkada bupati/wali kota. 

Kondisi adem ayem pemilih di satu pihak, dan ’’meratanya’’ figur  cagub Jateng menyebabkan pendukung/pemilih yang secara kultural mengalami konsistensi. Artinya, ada keterkaitan antara preferensi politik pada Pemilu 2004 dan cagub yang diusung oleh partai politik.

Hal ini berbeda dengan Pilgub Jabar maupun Pilgub Sumatera Utara atau pilkada bupati/wali kota yang telah digelar di Jawa Tengah, di mana figur calon kepala daerah merupakan faktor penentu kemenangan seorang calon. Dan bukan preferensi politik sebagaimana terjadi pada pilgub Jateng ini.

Artinya, kemenangan Bibit-Rustri ada indikasi mulai berperannya preferensi politik/kepartaian dalam kemenangan seorang calon kepala daerah.

Faktor lain untuk menjelaskan kemenangan Bibit-Rustri adalah ’’minimnya politik uang’’.  Selama ini, masyarakat di Jawa Tengah sudah terbiasa melihat peristiwa politik, seperti pilkada baik pilkada bupati maupun pilkada wali kota, dianggap sebagai representasi pemilihan kepala desa (pilkades) dalam jangkauan yang lebih luas.

Pemilih sudah terbiasa menganggap peristiwa politik tersebut sebagai sebuah perhelatan/pesta rakyat. Selama pilkades, pemilih terbiasa dininabobokkan dengan pemberian shodaqoh dari seorang calon, bisa berupa natura (seperti kain sarung untuk pemilih pria dan kain kebaya untuk wanita) maupun yang berujud uang, sebagai pengganti upah bekerja.

Demikian halnya, pada pilkada bupati/wali kota yang selama ini telah berlangsung di Jawa Tengah, di mana pemberian shodaqoh merupakan salah satu faktor kemenangan seorang calon bupati/wali kota.

Berdasar penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kajian Otonomi Daerah dan Kebijakan Publik (Puskodak) FISIP Undip di 12 kabupaten/kota yang menyelenggarakan event pilkada, ternyata ada empat faktor yang memengaruhi terpilihnya seorang  calon kepala daerah.

Keempat faktor tersebut adalah (1) popularitas calon; (2) dana kampanye (compaign finance); (3) network/kuatnya mesin politik; dan (4) kompetitor/pesaing calon.
Popularitas calon diukur dengan indikator dikenal dan disukai. Pemilih cenderung memilih seseorang calon yang dikenal atau paling tidak tahu namanya, baru kemudian disukai.

Faktor popularitas ini, terutama dalam hal disukai oleh pemilih jika sosok calon tersebut memiliki ketiga ciri keutamaan njawani seperti yang disebutkan di atas.
Fenomena populer tapi tak disukai karena dianggap keminter pernah terjadi pada calon presiden Amien Rais pada Pilpres 2004. Hampir semua orang tahu bahwa Amien adalah motor penggerak reformasi, tetapi pemilih tidak menyukainya karena dianggap keminter.

Sebaliknya Bibit Waluyo pada Pilgub Jateng 2008 ini, meskipun ia tidak sepopuler Amien Rais atau mungkin Bambang Sadono, tetapi sosok Bibit mencerminkan orang yang tidak keminter, rendah hati dan polos.

Pada pilkada bupati/wali kota, hampir sebagian besar perilaku memilih masyarakat dipengaruhi oleh politik uang/shodaqoh. Pemilih terutama dari kalangan bawah (grassroots) mengaku menerima shodaqoh dari calon kepala daerah.

Dan bahkan pemilih menganggap pemberian shodaqoh tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Persoalannya, mengapa ’’fenomena shodaqoh’’ tersebut kurang menggejala dalam Pilgub Jateng 2008? Jawabannya, pemilih Pilgub Jateng terlalu besar dan tersebar secara luas di 35 kabupaten/kota, sehingga kemampuan finansial cagub tampaknya kurang memadai untuk mengkover jumlah pemilih yang besar.

Bisa dibayangkan, bila seorang cagub memberi shodaqoh Rp 20.000 kepada tiga juta pemilih, misalnya, maka cagub akan menghabiskan biaya shodaqoh Rp 60.000.000.000 (enam puluh milyar rupiah). Besarnya biaya shodaqoh dan luasnya wilayah Jateng menyebabkan kecenderungan perilaku memilih pada Pilgub Jateng 2008 berbeda dengan pilkada bupati/wali kota.

Minimnya, gejala politik uang pada pilgub ini merupakan salah satu faktor penyebab kemenangan Bibit-Rustri dan tidak signifikannya suara yang diperoleh pasangan Sukawi-Sutarip pada Pilgub Jateng. Padahal pasangan itu secara ekonomi paling kuat.

Solidnya mesin politik/network. Pada pilkada bupati/wali kota di Jateng, mesin politik yang paling berperan adalah mesin politik nonpartai, seperti ’’Sukma Center’’ pada saat pemilihan Wali Kota Semarang bulan Juni 2005, Salim Center pada pilkada di Rembang, Hendy center pada pilkada di Kendal, dan di tempat lain. Namun, tampaknya mesin politik nonpartai yang dibentuk oleh kelima pasangan cagub Jateng tidak mempan.

Barangkali mesin politik nonpartai yang paling rapi, terorganisasi dan meniru gaya Amerika adalah Sukawi-Sudharto Center. Di samping gencar memasang iklan di media massa, mesin politik Sukawi juga gencar melalui telpon.
Dengan kemenangan Bibit-Rustri ini, ada inidikasi mesin partai atau paling tidak kekuatan partai ikut memperkuat preferensi pemilih.
Dilihat dari pesaing dalam Pilgub Jateng, tampaknya pasangan Bibit-Rustri ini relatif solid.

Soliditas pasangan ini, dapat dilihat dari kurang terfragmentasinya suara pendukung kultural dari warga nasionalis, yang direpresentasikan oleh PDI-P.
Berbeda dengan warga nahdliyin, mereka terbelah pada ketiga pasangan cagub, yaitu Bambang-Adnan, Tamzil-Rozaq dan Agus-Kholiq.

Dengan demikian, kemenangan Bibit-Rustri pada Pilgub Jateng sekarang ini menyadarkan kembali akan pentingnya soliditas mesin politik kepartaian dan sosok ideal kepemimpinan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal. 
Dan yang penting lagi, kemenangan Bibit-Rustri dalam Pilgub Jateng menyadarkan para analis politik untuk menundukkan kepala dan intropeksi. Selamat bekerja Pak Bibit dan Bu Rustri.(60)

 Penulis adalah staf pengajar FISIP Undip Semarang

 

 
 

 

 
 

 

 

 

 

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: