jump to navigation

Harga Minyak Tembus 140 Dolar AS Juni 28, 2008

Posted by dani chan in Uncategorized.
trackback

Krisis Listrik karena Konsumsi

Wapres: Pemborosan Listrik Akan Ditindak Tegas

Sabtu, 28 Juni 2008 | 01:51 WIB

Jakarta, Kompas – Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menegaskan, krisis listrik yang terjadi sekarang ini semata-mata karena faktor tingginya konsumsi listrik dibandingkan dengan kurangnya pasokan listrik yang diproduksi oleh PT Perusahaan Listrik Negara.

 

Menurut Wapres, krisis listrik sekarang ini bukan karena kecilnya subsidi pemerintah kepada PLN. ”Ini bukan masalah subsidi. Subsidi itu sudah besar sekali. Akan tetapi, karena permintaan yang terlalu tinggi, padahal penambahan pembangkit, baru selesai tahun depan,” ujar Wapres di Jakarta, Jumat (27/6).

 

Meningkatnya konsumsi listrik, lanjut Kalla, ternyata lebih cepat dari perkiraan penyelesaian pembangunan proyek percepatan pembangkit listrik berbahan baku batu bara atau yang lebih dikenal dengan proyek 10.000 MW. Hal tersebut disebabkan terjadinya pemborosan pemakaian daya listrik oleh masyarakat.

 

Pada saat yang sama, ada kerusakan di beberapa pembangkit listrik yang dimiliki PLN dan terhambatnya pasokan batu bara.

 

Wapres mengatakan, pemerintah akan mulai keras dan tegas bertindak terhadap pemborosan pemakaian listrik di rumah, perkantoran, dan mal-mal serta hotel. Pemerintah juga akan mempercepat penyelesaian proyek pembangkit listrik 10.000 MW.

 

”Saya akan panggil PLN agar sepenuhnya menjalankan efisiensi dan mengurangi kenyamanan dari pemborosan listrik. Jadi, ada dua hal yang akan dilakukan. Pertama, meningkatkan efisiensi sebelum proyek listrik 10.000 MW selesai dan mengurangi kenyamanan pelanggan PLN karena yang bisa mengatasi krisis itu adalah proyek listrik 10.000 MW. Padahal, proyek itu baru berfungsi betul pada tahun 2010. Kalau tahun depan, baru tiga pembangkitnya saja yang bisa jalan,” papar Wapres.

 

Wapres menambahkan, kalau perlu, pemerintah akan memberikan bonus kepada semua kontraktor yang bisa cepat menyelesaikan proyek 10.000 MW sebelum waktunya.

 

PLN tidak cengeng

 

Wakil Direktur Utama PT PLN Rudiantara mengemukakan, pihaknya telah menyampaikan kondisi menyeluruh kelistrikan tahun ini dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kepada Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara.

 

”Dengan kapasitas pembangkit seperti ini dan biaya energi yang jauh di atas perkiraan, defisit akan terus terjadi kalau tidak diambil tindakan. Sekarang kebijakan apa yang akan diambil. PLN tidak cengeng dengan minta-minta subsidi, tapi kalau subsidi tidak ditambah, bagaimana dengan cash flow perusahaan, bagaimana dengan kebijakan energi pemerintah?” kata Rudiantara.

 

Ia mengatakan, dengan pertumbuhan kelistrikan di atas 5 persen, harga minyak di atas 130 dollar AS per barrel, dan harga batu bara di atas 100 dollar AS per ton, PLN akan mengalami kekurangan. ”Kebijakan tarif ada pada pemerintah sebagai regulator sementara dari sisi ketersediaan energi, PLN tidak diproteksi,” kata Rudiantara.

Dalam kondisi kapasitas pembangkit yang terbatas, menambah jumlah pelanggan bukannya menambah penerimaan PLN, tetapi justru menambah biaya pengeluaran bahan bakar.

 

Pemantauan Kompas di berbagai daerah menunjukkan bahwa pemutusan arus listrik juga mengganggu aktivitas pelayanan di rumah sakit. Meski ada sumber energi cadangan berupa genset, penanganan terhadap pasien, khususnya pada unit darurat, terganggu. Kerugian nonfinansial pasien lebih tinggi ketimbang kerugian finansial rumah sakit.

 

Trisno Heru Nugroho, Kepala Bagian Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, mengatakan, mulai April hingga pertengahan Juni tahun ini tercatat sudah delapan kali aliran listrik setempat terhenti. Lama waktu sekali padam mencapai 1 hingga 3,5 jam. Ironisnya, tidak ada pemberitahuan lebih dulu dari PLN kepada rumah sakit sebelum pemutusan arus listrik.

 

“Tidak ada pemberitahuan kepada kami kalau listrik akan padam. Kalau ada, kan, kami bisa bersiap-siap sebelum pemutusan arus listrik.” ujarnya, Jumat (27/6).

 

Empat genset berkekuatan 2 megawatt yang dimiliki RS Sardjito harus dinyalakan serentak. Itu pun, kekuatannya tidak bisa menyeluruh dan hanya dimanfaatkan untuk meng-cover sekitar 80 persen area. Genset dipakai untuk menerangi dan menghidupkan peralatan pada unit-unit vital, seperti Intensive Care Unit. Sedang untuk ruang atau lorong yang jarang dilalui terpaksa dibiarkan gelap.

 

Penggunaan genset juga terkendala biaya bahan bakar solar yang mencapai 600 liter per jam. Dari delapan kali pemadaman, RSUP Dr Sardjito telah menghabiskan sekitar 7.100 liter solar.

 

“Untuk membeli solar sebanyak itu, dan hanya untuk beberapa jam, kami mengeluarkan Rp 39 juta. Ini sangat memberatkan, mengingat tagihan listrik saja hanya Rp 400 juta per bulan. Tapi, kerugian terbesar justru dari nonfinansial,” ujar Heru.

 

Ia mencontohkan, banyak pasien dan pengunjung yang protes, terutama saat dilangsungkan operasi atau ketika mereka sedang berada di dalam lift. “Durasi 10-15 detik tidak bisa dibilang sebentar kalau sedang ada operasi. Bayangkan kalau ada operasi kehamilan dan listrik mati mendadak. Bayi-bayi yang baru lahir perlu pemanasan tubuh yang konstan. Ruang gawat darurat juga harus dipasok listrik,” ujarnya.

 

Di Surabaya, Direktur RSUD M Soewandi Lilian Anggraini mengatakan pemeriksaan kesehatan yang menggunakan peralatan berenergi listrik tidak bisa dilakukan, termasuk alat untuk memonitor jantung.

 

Pemutusan aliran listrik juga menyulitkan penanganan karena RSUD M Soewandi tidak memiliki genset untuk gedung tempat poliklinik penyakit dalam, jantung, dan paru-paru, dan beberapa ruang rawat inap pasien dewasa.

 

Direktur Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Cissy Kartasasmita memperkirakan pemakaian solar di rumah sakit itu meningkat hingga 30 persen dari pemakaian rata-rata 12.000 liter per bulan. Saat arus listrik putus selama enam jam pada akhir Mei lalu, RSHS membutuhkan solar tambahan hingga 2.000 liter.

 

>< Di Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Kota Semarang, pemutusan arus menyebabkan rumah sakit harus menambah biaya ekstra untuk membeli solar guna menyalakan genset. Selama bulan Juni, RS tersebut mengalami sekitar 15 jam pemutusan arus listrik. “Genset yang kami miliki berdaya 400 kilo volt ampere (kVA). Setiap menyala satu jam, genset membutuhkan sekitar 100 liter solar,” kata Mashadi, Kepala Bagian Rumah Tangga RSI Sultan Agung. (BRO/FUL/WER/PRA/MHF/ A07/A08/A09/OSA/HAR/DOT)

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: