jump to navigation

Tanaman Padi Dibiarkan Juni 28, 2008

Posted by dani chan in Uncategorized.
trackback

Petani Membuat Kincir untuk Menaikkan Air Sungai

Sabtu, 28 Juni 2008 | 03:00 WIB

 

Kompas/Suprapto / Kompas Images
Setelah berfungsi kembali selama enam bulan untuk menampung air hujan dan mengairi lebih dari 400 hektar sawah, waduk lapangan di Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mulai terganggu puluhan beranjang. Alat tangkap ikan yang terbuat dari bilah bambu dan jaring nilon ini bisa mendangkalkan waduk dan menyebabkan banjir. Waduk sepanjang 3 kilometer, lebar rata-rata 30 meter, dan kedalaman 5 meter itu dibangun dengan dana APBN sebesar Rp 7 miliar

 

 

Purwakarta, Kompas – Petani sawah tadah hujan di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, membiarkan tanaman padinya mati karena sumber air kering dan kehabisan modal. Luas area tanaman padi yang puso mencapai puluhan hektar, tersebar di Kecamatan Campaka, Tegalwaru, Pasawahan, Plered, dan Cibatu.

 

Deden (32), petani di Desa Margasari, Kecamatan Pasawahan, Jumat (27/6), mengatakan, sumber air terdekat, Sungai Cikolotok, kering sejak tiga pekan lalu. Adapun air di Sungai Ciater menyusut dan tak cukup untuk mengairi sawah di sepanjang daerah aliran sungai yang mencapai puluhan hektar.

 

Beberapa petani nekat memompa air Sungai Ciater meski jarak ke sawahnya mencapai 500 meter. Sebagian lain membiarkan padinya mati karena tidak punya modal untuk menyedot air.

 

Sebagian petani di Desa Tegalsari, Tegalwaru, Batutumpang, dan Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, juga membiarkan padinya mati. Sumur bor terdekat tak mencukupi kebutuhan air sawah-sawah di sekitarnya.

 

Di Kecamatan Campaka sebagian petani juga kehabisan modal untuk membeli bahan bakar dan menyewa pompa air. Demikian tutur Rojak (42), petani di Desa Benteng, Kecamatan Campaka.

 

Data Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan Kabupaten Purwakarta menunjukkan, hingga pertengahan Juni luas area padi puso mencapai 48 hektar.

 

Petani di Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, terpaksa mencabuti tanaman padi dan menggantinya dengan jagung atau palawija lain, akibat kekeringan dua bulan ini.

 

Para petani di Desa Penaruban, Kaligondang, biasa menyedot air dari Sungai Klawing. Kini air sungai menyusut, sementara biaya penyedotan naik dua kali lipat. ”Sekali menyedot air perlu Rp 150.000 untuk 100 ubin. Kalau 400 ubin, berarti Rp 600.000. Dari mana uangnya,” kata Dasiman. Oleh karena itu, Dasiman mengganti padi dengan jagung dan kacang-kacangan. Tanaman padinya hanya tinggal sepetak. ”Hasilnya tidak sebesar padi, tetapi daripada tidak ada hasil,” katanya.

 

Menurut Kepala Seksi Rehabilitasi Lahan dan Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu, Jabar, Faqih tanaman padi yang mengalami kekeringan sampai akhir Juni mencapai 24.250 hektar dari 89.000 hektar. Adapun lahan yang puso luasnya 1.078 hektar.

 

Kepala Subdinas Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan Indramayu Toto Kusmarwanto menyatakan, kekeringan baru 11 persen dari luas tanam sehingga tidak akan memengaruhi penyediaan beras untuk penduduk Indramayu.

Hal sama diutarakan Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Jabar Entang Sastraatmadja. Puso di Indramayu belum mengancam pasokan beras Jabar meski tetap diwaspadai.

 

Kincir air

 

Untuk mengatasi kekeringan, petani di sekitar obyek wisata Goa Kreo Dusun Talunkacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jateng, akan membuat kincir air untuk menaikkan air sungai ke lahan pertanian.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kudus Arumdiah menyatakan, Waduk Ngemplak di Kabupaten Kudus, Jateng, mulai berfungsi sehingga bisa menampung air di musim hujan serta mengairi lahan lebih dari 400 hektar. (MKN/HAN/THT/NIK/A05/SUP

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: