jump to navigation

Pendidikan Pertanian Diarahkan ke Agribisnis Agustus 2, 2008

Posted by dani chan in Uncategorized.
trackback

Sabtu, 2 Agustus 2008 | 00:24 WIB

Jakarta, Kompas – Mengatasi turunnya minat calon mahasiswa mengambil jurusan pertanian, pendidikan pertanian ke depan akan difokuskan pada dua bidang, yakni agroteknologi/agro- ekoteknologi dan agribisnis. Selain itu, praktik-praktik teknologi modern, teknologi informasi, dan komunikasi juga akan diperkuat.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Fasli Jalal di Jakarta, Jumat (1/8), mengatakan, menurunnya minat lulusan SMA memilih bidang pertanian akan berpengaruh pada masa depan bangsa sehingga harus segera dicarikan solusinya.

Seperti diberitakan, hasil seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) tahun 2008 menyisakan 2.894 kursi kosong pada program studi pertanian dan peternakan di 47 perguruan tinggi negeri (Kompas 1/8).

Turunnya minat calon mahasiswa ke pertanian bukan hanya tahun ini. Tahun 2007, dari 470 program studi yang daya tampungnya tak tepenuhi, sebanyak 213 bidang studi (45,32 persen) merupakan program studi yang terkait dengan bidang pertanian.

Menurut Fasli, dari hasil evaluasi sementara, penguasaan ilmu mahasiswa S-1 pertanian dirasakan terlalu spesifik, bersifat monodisiplin, dan lebih berorientasi pada aspek pendalaman ilmu. Karena itu, bidang kajian akan diperluas dengan fokus utama pada teknologi pertanian dan agrobisnis. ”Kurikulum pendidikan pertanian juga ditata kembali sehingga 3-5 tahun ke depan, pendidikan tinggi pertanian bisa diminati kembali,” kata Fasli.

Diminati Malaysia

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Pertanian Bogor (IPB) Yonny Koesmaryono mengatakan, kondisi menyedihkan perguruan tinggi pertanian karena pemerintah tidak serius menempatkan pertanian sebagai motor penggerak pembangunan. ”Lebih mirisnya, pada saat generasi muda kita menjauhi pertanian, justru banyak mahasiswa dari Malaysia yang kuliah di bidang pertanian di negara kita,” kata Yonny.

Guru besar sosial ekonomi dan industri pertanian Universitas Gadjah Mada, M Maksum, berpandangan, apabila nilai tambah sektor pertanian tak ”dihadang”, pendidikan pertanian tidak akan stagnan seperti sekarang. Generasi muda mau terjun ke pertanian jika melihat potensi usaha yang menjanjikan.

”Wirausaha muncul ketika ada peluang dan peluang usaha itu ada ketika nilai tambah industri berbasis pertanian diciptakan,” ujarnya.

Petani tebu yang tergolong sukses, Anwar Asmali, mengungkapkan, kebijakan pertanian yang ada sekarang kurang fokus dan belum ada perencanaan jangka panjang. Akibatnya, pertanian ditinggalkan generasi muda. (ELN/MAS/IRE/WKM)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: