jump to navigation

Dua Tsunami untuk SBY-JK Agustus 5, 2008

Posted by dani chan in Uncategorized.
trackback

Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla (SBY-JK) dihadang dua tsunami. Satu di awal, satu lagi di ujung kekuasaan mereka. Baru dua bulan memerintah, mereka mesti menghadapi tsunami Aceh dan Nias. Di ujung pemerintahan, mereka dihadang “tsunami” krisis energi dan pangan. Kedua tsunami ini bukan saja menguras energi dan pikiran, melainkan juga anggaran pemerintahan.

Ketika Pemilu 2009 makin mendekat sekarang ini, pemerintah, sekadar misal, mesti menanggung tiga beban subsidi amat berat –subsidi listrik, bahan bakar minyak (BBM), dan pangan yang mencapai Rp 320 trilyun per tahun. Sebagai salah satu turunannya, krisis listrik jadi ancaman serius pada saat ini; sekalipun jangan terlalu berharap bahwa listrik akan padam ketika SBY dan/atau JK berpidato-kampanye di atas podium kelak.

Salah satu bagian pokok krisis energi adalah naiknya harga minyak dunia yang makin memberatkan beban anggaran kita. Ini konsekuensi serta-merta yang mesti kita tanggung karena gagal mengelola kekayaan cadangan minyak dan terpuruk menjadi importir. Maka, tiga kali sudah pemerintahan menaikkan harga BBM.

Dalam ketiga kasus itu, demonstrasi anti-kenaikan harga, sesuai dengan prediksi dan harapan pemerintah, memang tak panjang usia. Namun cerita agak berbeda kita saksikan dalam kasus kenaikan harga Juni 2008 ini. Kenaikan harga memang tak diresistensi oleh demonstrasi bernapas panjang. Tetapi reaksi di bawah permukaan terus berjalan seiring dengan makin mendekatnya hari pencoblosan Pemilu 2009. Kali ini, reaksi publik bisa jadi bermuara di tempat-tempat pemungutan suara April 2009 (pemilu legislatif) serta Juli dan September 2009 (dua putaran pemilu presiden).

Setidaknya, begitulah Indobarometer mengindikasikan melalui survei yang mereka publikasikan awal Juli lalu. Masyarakat yang puas atas kinerja Presiden SBY melorot dari 55,6% pada Desember 2007 menjadi 36,3% pada Juni 2008. Angka kepuasan terhadap Wapres JK setali tiga uang: meluncur dari 49,9% menjadi 28,8% saja dalam kurun waktu yang sama.

Bagi SBY, konsekuensi kenaikan harga BBM itu berlanjut ke kemungkinannya terpilih kembali dalam Pemilu 2009. Pada Desember 2007, lagi-lagi menurut Indobarometer, ada 38,1% orang yang mengaku akan memilih SBY. Ia kandidat yang paling diminati. Namun angkanya melorot menjadi hanya 20,7% pada Juni 2008.

Sebaliknya, tiga pesaing terdekat SBY sejauh ini, Megawati Soekarnoputri, Wiranto, dan Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengalami kenaikan popularitas. Jika pada Desember 2007 Megawati hanya dipilih oleh 27,4%, pada Juni 2008 pemilihnya 30,4% –sekitar 10% di atas SBY. Dalam rentang waktu yang sama, Wiranto mengalami kenaikan jumlah pemilih dari 4,8% menjadi 9,3% dan Sultan dari 6,3% menjadi 8,8%.

Maka, tsunami pertama (Aceh dan Nias) menuntut pemerintahan SBY-JK menjadi pengelola bencana yang andal –sebuah harapan yang tak jua tercapai. Sementara itu, tsunami kedua tampaknya justru bisa jadi sumber bencana bagi keduanya dalam Pemilu 2009. Keduanya, terutama SBY, terancam kehilangan dukungan publik.

Persoalannya menjadi makin rumit bagi keduanya, mengingat krisis energi dan pangan baru saja dimulai dan bukan akan berakhir. Harga minyak dunia yang tak juga bersahabat memaksa pemerintah terus menggelontorkan subsidi BBM dalam jumlah makin besar. Ancaman krisis pangan global dan krisis listrik juga membebani anggaran negara dengan subsidi raksasa.

Akankah pemerintah berani menaikkan kembali harga BBM? Dugaan saya, tidak. Tapi, jikapun mereka punya surplus keberanian untuk mengambil langkah tak populer itu, satu-satunya kemungkinan kesempatan terakhir adalah menjelang Ramadan besok (sekitar September). Sebab, menurut teori JK, kenaikan harga dramatis (rata-rata di atas 100%) pada Oktober 2005 tak menghasilkan resistensi dan oposisi serius-panjang-efektif karena diputuskan menjelang Ramadan. Atmosfer Ramadan, menurut teori ini, membinasakan syahwat demonstrasi dan oposisi politik.

Lewat September, tak tersedia lagi kesempatan. Pada Oktober 2008 –sembilan bulan sebelum hari pencoblosan putaran pertama pemilihan presiden pada Juli 2009– status SBY dan JK sebagai kandidat harus sudah diumumkan. Agak tak masuk akal jika keduanya berani menjadi kandidat presiden/wapres –baik jika keduanya berduet lagi atau malah berduel– yang menaikkan harga BBM. Memori pemilih, sekalipun sangat pendek, akan menghukum mereka tanpa ampun.

Kapan pun kenaikan harga BBM diputuskan sekarang-sekarang ini, saya yakin, hanya akan memproduksi magma ketidakpuasan yang mengalir deras menuju tempat-tempat pemungutan suara.

Walhasil, tsunami pertama memosisikan SBY-JK sebagai pendamai dan pembebas Aceh; pemimpin yang sukses melepaskan Aceh dari konflik panjang. Sementara itu, jika tak terkelola, bukan tak mungkin tsunami kedua justru akan melepaskan SBY dan/atau JK dari kekuasaan pada periode berikutnya. Selebihnya, tentu saja, hanya Tuhan yang tahu.

Eep Saefulloh Fatah
Pengajar ilmu politik di Universitas Indonesia
[Perspektif, Gatra Nomor 37 Beredar Kamis, 24 Juli 2008]

http://www.gatra.com/artikel.php?id=117172

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: